Kisah Perjalanan Hidup Alireza Beiranvand
0

Kisah Perjalanan Hidup Alireza Beiranvand

Jun 26 artikel123  

Kisah Perjalanan Hidup Alireza Beiranvad – Kiper Iran, Alireza Beiranvand, menjadi sosok perhatian publik setelah melakukan penyelamatan heroik dari eksekusi pemain terbaik di dunia, Cristiano Ronaldo. Di balik itu semua, terdapat sebuah kisah perjalanan yang luar biasa.

Kisah Perjalanan Hidup Alireza Beiranvand

Kisah Perjalanan Hidup Alireza Beiranvand

Alireza merupakan kip[er dari sebuah klub lokal Iran, Persepolis, yang merupakan salah satu kontestan Persian Guif Pro League. Pria berumur 25 tahun itu bermain di Persepolis sejak tahun 2016 dan telah mempersembahkan tiga gelar.

Dengan prestasi seperti itu, pantaslah bagi Alireza mendapatkan tempat di dalam skuat timnas Iran untuk Piala Dunia 2018. Tap[i untuk mencapai itu semua, sang pemain harus melewati berbagai rintangan hidup yang berat.

Alireza lahir di Sarabias, Lorestan, dalam keluarga yang selalu berpindah-pindah demi mendapatkan padang rumput untuk domba mereka. Alireza, sebagai anak tertua, harus bekerja sejak kecil untuk membantu keluarganya.

Pekerjaan pertamanya adalah mengembala domba dan kapanpun dia mendapatkan waktu senggang. Ia akan bermain sepakbola serta permainan lokal bersama Dal Paran. Rupanya, permainan tersebut memiliki peran yang signifikan terhadap kemampuannya di lapangan.

Dal Paran merupakan permainan dengan menggunakan sebuah batu dan pemainnya harus melemparnya sejauh mungkin. Pada tahun 2014, ia mencuri perhatian media dengan lemparan sejauh 70 meter kata menghadapi Tractor Sazi menjadi assist untuk rekan setimnya.

Perjalanan hidupnya tidak sampai di situ saja. Demi mengejar impiannya menjadi pemain sepakbola profesional, Alireza pun harus kabur dari keluarganya dan hidup berpindah-pindah tanpa rumah yang hangat.

Keluarganya sangat menentang cita-citanya untuk menjadi seorang pesepakbola profesional, terutama cita-citanya untuk menjadi seorang pesepakbola profesional, terutama sanga ayah, Morteza Beiranvand. Bagi ayahnya, sepakbola bukan sebuah pekerjaan. Pemikiran yang sama dengan mayoritas ayah di Iran kala itu.

“Ayah sama sekali tidak menyukai sepak bola dan meminta saya bekerja. Dia bahkan merobek seragam serta sarung tangan dan saya bermain dengan tangan kosong beberapa kali”.

Untuk mengejar mimpinya, ia pun harus meninggalkan rumah dan pergi ke Tehran dengan modal pinjaman uang dari sanak saudaranya. Ia memutuskan untuk pindah ke Ibukota dem bergabung dengan klub yang lebih besar.

Di perjalanan, ia bertemu dengan salah satu pelatih bernama Hossein Friz yang sedang menukangi sebuah klub lokal. Feiz mengatakan bahwa Alireza bisa berlatih bersama timnya jika bisa memberi 200.000 toman.

Dengan fakta bahwa dirinya tidak memiliki uang maupun tempat tinggal, ia memutuskan untuk tidur di depan pintu klub. Beberapa orang yang melintasinya bahwa mengiranya sebagai pengemis dan memberikannya uang.

“Saya tidur di depan pintu klub dan saat bangun pada pagi hari, saya menyadari bahwa orang-orang memberikan saya recehan. Mereka berfikir saya adalah pengemis saya bisa menikmati sarapan enak untuk pertama kalinya sejak lama”.

Pintu hati Feiz pun langsung terketuk dan memberikan kesempatan pada Alireza untuk berlatih secara Gratis. Alireza juga menumpang di rumah rekannya selama dua pekan dan melakukan pekerjaan lain untuk menghidupiu dirinya.

Alireza pun harus bergabung dengan beberapa klub agar bisa mencapai mimpinya. Kerja kerasnya pun akhirnya membuahlkan hasil. Ia mulai bersinar dan mendapatkan tempat di dalam skuat Timnas Iran U-23.

Tahun 2015, Alireza pun promosi ke  skuat utama timnas senior dan membuat 12 clean sheet selama babak kualifikasi Piala Dunia. Berkat dirinya, Iran pun sukses mendapatkan jatah bermain di Russia 2018.

Dari seseorang yang sempat dikira gelandangan, hingga akhirnya berhasil menahan eksekusi Ronaldo. Perjalanan Alireza untuk mencapai mimpinya tidaklah mudah. Walaupun Iran harus tersingkir, tetapi bisa mencapai titik  ini merupakan sebuah prestasi untuk sang pemain.

“Saya mengalami banyak kesulitan untuk membuat mimpi saya menjadi nyata, tapi saya tidak punya niatan untuk melupakan mereka. Sebab mereka yang membuat saya seperti ini sekarang”.

Leave a comment

Type your name
Type your email
Website url
Type your comment